PENGERTIAN TEORI PEMROSESAN
INFORMASI
Teori pemrosesan informasi adalah teori kognitif tentang belajar yang
menjelaskan pemrosesan, penyimpanan, dan pemanggilan kembali pengetahuan dari
otak. Teori ini menjelaskan bagaimana seseorang memperoleh sejumlah informasi
dan dapat diingat dalam waktu yang cukup lama. Oleh karena itu perlu menerapkan
suatu strategi belajar tertentu yang dapat memudahkan semua informasi diproses
di dalam otak melalui beberapa indera.
Teori pembelajaran pemrosesan informasi adalah bagian dari teori
belajar sibernetik. Secara sederhana pengertian belajar menurut teori belajar
sibernetik adalah pengolahan informasi. Dalam teori ini, seperti psikologi
kognitif mengkaji proses belajar penting dari hasil belajar namun yang lebih
penting dari kajian proses belajar itu sendiri adalah sistem informasi, sistem
informasi inilah yang pada akhirnya akan menentukan proses belajar.
Dalam upaya menjelaskan bagaimana
suatu informasi (pesan pengajaran) diterima, disandi, disimpan dan dimunculkan
kembali dari ingatan serta dimanfaatkan jika diperlukan, telah dikembangkan
sejumlah teori dan model pemrosesan informasi oleh para pakar seperti Biehler
dan Snowman (1986); Baine (1986); dan Tennyson (1989). Teori-teori tersebut
umumnya berpijak pada tiga asumsi (Lusiana, 1992) yaitu:
a.
Bahwa antara
stimulus dan respon terdapat suatu seri tahapan pemrosesan informasi dimana
pada masing-masing tahapan dibutuhkan sejumlah waktu tertentu.
b.
Stimulus
yang diproses melalui tahapan-tahapan tadi akan mengalami perubahan bentuk
ataupun isinya.
c.
Salah satu dari tahapan mempunyai kapasitas
yang terbatas.
Dari ketiga asumsi
tersebut,dikembangkan teori tentang komponen struktur dan pengatur alur
pemrosesan informasi (proses control). Kompenen pemrosesan dipilih menjadi tiga
berdasarkan perbedaan fungsi, kapasitas, bentuk informasi, serta proses
terjadinya”lupa”. Ketiga komponen tersebut adalah:
1.
Sensory
receptor
Sensory
Receptor (SR) merupakan sel tempat pertama kali informasi diterima dari luar.
informasi masuk ke sistem melalui sensory
register Di dalam SR informasi ditangkap dalam bentuk aslinya, informasi hanya
dapat bertahan dalam waktu yang sangat singkat, dan informasi tadi mudah
terganggu dengan kata lain sangat mudah berganti. Agar tetap berada
dalam sistem, informasi masuk ke working
memory yang digabungkan dengan informasi di long-term memory.
2.
Working
memory
Pengerjaan
atau operasi informasi berlangsung di working memory. Disini, berlangsung
proses berpikir secara sadar. Working Memory (WM) diasumsikan mampu
menangkap informasi yang diberi perhatian (attention) oleh individu. Pemberian
perhatian ini dipengaruhi oleh peran persepsi. Karakteristik WM adalah bahwa;
1) ia memiliki kapasitas yang terbatas, lebih kurang 7 slots. Informasi di
dalamnya hanya mampu bertahan kurang lebih 15 detik apabila tanpa upaya
pengulangan atau rehearsal. 2) informasi dapat disandi dalam bentuk
yang berbeda dari stimulus aslinya. Asumsi pertama berkaitan dengan penataan
jumlah informasi, sedangkan asumsi kedua berkaitan dengan peran proses kontrol.
Artinya, agar informasi dapat bertahan dalam WM, maka upayakan jumlah informasi
tidak melebihi kapasitas WM disamping melakukan rehearsal.
Sedangkan penyandian pada tahapan WM, dalam bentuk verbal, visual, ataupun
semantik, dipengaruhi oleh peran proses kontrol dan seseorang dapat dengan
sadar mengendalikannya.
3.
Long term memory
Long Term
Memory (LTM) diasumsikan;
1) berisi semua pengetahuan yang
telah dimiliki
oleh individu,
2) mempunyai kapasitas tidak terbatas, dan
3) bahwa sekali informasi disimpan
di dalam LTM ia tidak akan pernah terhapus atau hilang.
yang berfungsi sebagai kerangka
untuk mengkaitkan pengetahuan baru. Dengan ungkapan lain, Tennyson (1989)
mengemukakan bahwa proses penyimpanan informasi merupakan proses
mengasimilasikan pengetahuan baru pada pengetahuan yang telah dimiliki, yang
selanjutnya berfungsi sebagai dasar pengetahuan (knowledge base) (Lusiana,
1992).
Teori belajar pemrosesan informasi mendeskripsikan
tindakan belajar merupakan proses internal yang mencakup beberapa tahapan.
Sembilan tahapan dalam peristiwa pembelajaran sebagai cara-cara eksternal yang
berpotensi mendukung proses-proses internal dalam kegiatan belajar adalah :
1.
Menarik
perhatian
2.
Memberitahukan
tujuan pembelajaran kepada siswa
3.
Merangsang
ingatan pada pra syarat belajar
4.
Menyajikan
bahan peransang
5.
Memberikan
bimbingan belajar
6.
Mendorong
unjuk kerja
7.
Memberikan
balikan informatif
8.
Menilai
unjuk kerja
9.
Meningkatkan
retensi dan alih belajar
apakah faktor yang menyebabkan informasi tidak tersimpan di long term memory?
BalasHapussaya akan mencoba bantu menjawab pertanyaan saudari, kita ketahui bahwa setiap orang memiliki tingkat kognitif yang berbeda-berbeda,dari tingkat kognitif tsb tentulah pula tingkat mereka dalam menyimpang setiap informasi yang mereka terima juga berbeda-berbeda baik itu di dalam short term memory maupun long term memory, nah jika informasi yang didapatkan oleh sesorang yang kemudian akan masuk kedalam short term memorynya lalu informasi tsb tidak mereka ulang-ulang untuk memanggil informasi tsb maka informasi yang terdapat didalam short term memory tidak bisa tersimpan didalam long term memorynya
HapusTerimakasih miranda sudah membantu menjawab pertanyaan dari dwindah , semoga bermanfaat.
HapusDalam teori pemprosesan informasi melalui media pembljrn kmia, kesulitan ap yang anda temui disini
BalasHapusSejauh ini saya belum menemukan kesulitan dalam teori pemrosesan informasi melalui media karna teori ini menarik perhatian dan memberitahukan tujuan pembelajaran pada siswa.
Hapusteori manakah yang lebih mudah dalam pemrosesan informasi berbantuan media?
BalasHapusWorking memory
HapusBagaimana cara kita memanggil kembali sesuatu dalam memori jangka panjang?
BalasHapusmenurut saya yaitu dengan menyebutkannya berkali-kali, atau serring kita sebut atau bahas. terima kasih
HapusTerima Kasih ismi sudah membantu menambahkan jawaban .
Hapus