PENGEMBANGAN E-LEARNING DALAM PEMBELAJARAN
KIMIA
Pembelajaran
yang hanya dilakukan di kelas memiliki beberapa kelemahan, di antaranya sumber
belajar terbatas, pembelajaran kurang efektif, dan tidak mampu mengakomodasi
gaya dan kecepatan belajar siswa. Gaya belajar adalah suatu cara atau strategi
seseorang dalam mengelola informasi. Kelemahan tersebut dapat diatasi dengan
memanfaatkan perkembangan teknologi yang semakin maju dengan mengembangkan media pembelajaran yang dapat
mengakomodasi perbedaan gaya dan kecepatan belajar siswa. terlebih lagi dalam pembelajaran kimia sangat diperlukan media agar materi kimia yang cenderung susah dipahami oleh siswa dapat terbantu dengan adanya media yang mendukung. Oleh karena itu
diperlukan sebuah media yang mampu memberikan nuansa baru dalam pembelajaran,
memberikan beragam sumber belajar yang dapat diakses setiap saat oleh siswa,
sehingga mampu mengakomodasi gaya dan kecepatan belajar siswa.
Salah satu
alternatif yang diajukan adalah dengan mengembangkan media pembelajaran
berbasis learning management system (LMS) dengan memanfaatkan kemajuan
teknologi di bidang internet. Learning Management System (LMS) atau yang juga
dikenal sebagai Virtual Learning
Environtment (VLE) adalah suatu pengelolaan pembelajaran yang mempunyai fungsi
untuk memberikan sebuah materi, mendukung kolaborasi, menilai kinerja siswa, merekam
data peserta didik, dan menghasilkan laporan yang berguna untuk memaksimalkan
efektivitas dari sebuah pembelajaran (Yasar dan Adiguzel, 2010). LMS biasanya
dikembangkan dalam sistem berbasis web. Penggunaan teknologi web ini dalam suatu
program pendidikan memberikan dukungan kepada guru atau pengajar untuk mencapai
tujuan pedagogis siswa, mengatur isi kursus, dan mendukung sarana belajar siswa
pada akhirnya (Cigdemoglu et al, 2011).
Media
pembelajaran berbasis learning management system menjadi salah satu solusi yang
bisa dipakai dalam proses pembelajaran. Beberapa alasan menggunakan media pembelajaran
ini adalah(a) terjadi peningkatan efektivitas pembelajaran dan prestasiakademik
siswa, (b) menambah kenyamanan, (c) menarik lebih banyak perhatian siswa kepada
materi yang disampaikan dalam pembelajaran, (d) dapat diterapkan dengan berbagai
tingkat dan model pembelajaran, dan (e) dapat menambah waktu pembelajaran dengan
memanfaatkan teknologi dunia maya (Kim, 2007:5; Kose, 2010:2796).Media
pembelajaran berbasis LMS sangat berguna dalam menyediakan lingkungan/suasana
belajar yang lengkap bagi siswa, karena penuh dengan penyediaan dokumen yang
terkait modul dalam format elektronik, kesempatan untuk saling belajar bersama-sama,dan
kesempatan untuk menyerahkan semua penilaian sumatif secara elektronik. Alasan
lain yang mendukung perspektif tersebut adalah bahwa setiap siswa memiliki
akses ke semua konten pembelajaran, memiliki fleksibilitas waktu dan momen yang
paling cocok untuk kebutuhan siswa dalam belajar, dapat belajar dengan
kemampuan kecepatan belajar masing-masing, dan berpartisipasi dalam kesempatan
belajar yang interaktif (Alberst et al, 2007:55-56; Kose, 2010:2796).
Pembelajaran berbasis web adalah
proses belajar mengajar yang dilakukan dengan memanfaatkan jaringan internet,
sehingga sering disebut juga dengan e-learning.
Internet merupakan jaringan yang terdiri atas ribuan bahkan jutaan komputer,
termasuk di dalamnya jaringan lokal, yang terhubungkan melalui saluran
(satelit, telepon, kabel) dan jangkauanya mencakup seluruh dunia. Internet
memiliki banyak fasilitas yang dapat digunakan dalam berbagai bidang, termasuk
dalam kegiatan pendidikan. Fasilitas tersebut antara lain: e-mail, Telnet, Internet Relay Chat,
Newsgroup, Mailing List (Milis), File Transfer Protocol (FTP), atau World Wide Web (WWW).
Khan dalam Herman Dwi Surjono
(1999) mendefinisikan pengajaran berbasis web (WBI)
sebagai program pengajaran berbasis hypermedia
yang memanfaatkan atribut dan sumber daya World Wide Web (Web)
untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Sedangkan menurut
Clark WBI adalah pengajaran
individual yang dikirim melalui jaringan komputer umum atau pribadi dan
ditampilkan oleh web browser.
Oleh karena itu kemajuan WBI akan
terkait dengan kemajuan teknologi web (perangkat
keras dan perangkat lunak) maupun pertumbuhan jumlah situs-situs web di dunia yang sangat cepat.
Model Pengembangan Pembelajaran Berbasis Web
Multimedia pembelajaran berbasis
web merupakan perangkat lunak yang digunakan dalam aktivitas pembelajaran.
Salah satu referensi pengembangan perangkat lunak adalah pendapat pakar Software
Enginering yaitu Roger S. Pressman. Menurut Pressman (2002: 38), rekayasa
perangkat lunak mencakup tahap-tahap: analisis kebutuhan, desain, pengkodean,
pengujian, dan pemeliharaan.
Salah satu model pembelajaran
berbasis web dikembangkan oleh Davidson dan Karel L. Rasmussen (2006). Model
yang dikembangkan oleh Davidson dan Rasmussen tersebut meliputi tahap analisis,
desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi.
Tahap analisis meliputi analisis
masalah dan analisis komponen pembelajaran. Tahap desain meliputi desain
pembelajaran dan desain software. Tahap pengembangan adalah merakit berbagai
komponen desain pembelajaran dan software menjadi sebuah program pembelajaran
berbasis web. Tahap implementasi terdiri dari implementasi sementara dan
implementasi penuh. Sedangkan tahap evaluasi dibedakan menajdi evaluasi
formatif dan evaluasi sumatif.
Pengembangan desain pembelajaran
untuk web based learning dirancang sedemikian rupa agar proses
pembelajaran online tersebut dapat berjalan dengan efektif. Ada tiga elemen
pokok yang harus ada dalam desain model pembelajaran berbasis web, yaitu learning
tasks, learning resources, dan learning supports. Learning tasks
mencakup aktivitas, masalah, dan interaksi untuk melibatkan peserta didik. Learning
resources memuat konten, informasi dan sumber-sumber yang dapat diakses
oleh peserta didik. Learning supports terkait dengan petunjuk belajar,
motivasi, umpan balik, dan kemudahan akses bagi peserta didik.
Soekartawi (2003) menyarankan beberapa tahap yang
perlu diperhatikan dalam mengembangkan model pembelajaran berbasis web.
Tahap-tahap tersebut meliputi: analisis kebutuhan, rancangan instruksional,
pengembangan, pelaksanaan, dan evaluasi. Tahap awal yang perlu dipertimbangkan
adalah apakah pembelajaran berbasis web memang dperlukan. Hal tersebut harus
disesuaikan dengan karakteristik dan kondisi lembaga pendidikan. Rancangan
instruksional meliputi aspek analisis konten, analisis peserta didik, dan
analisis komponen pembelajaran lainnya. Pengembangan e-learning merupakan
proses produksi program dengan mengintegrasikan berbagai software dan hardware
yang diperlukan. Pelaksanaan merupakan realisasi penggunaan program yang telah
dihasilkan dan menganalisis kelemahan-kelemahan yang terjadi. Evaluasi
diperlukan dalam bentuk beta test ataupun alfa test untuk menguji usabilitas
dan efektivitas program sebelum diimplementasikan secara formal.
Pengembangan model pembelajaran
berbasis web perlu memperhatikan komponen strategi pembelajaran.
Komponen-komponen utama dari strategi pembelajaran yang harus dirancang adalah:
aktivitas awal pembelajaran, penyajian materi, partisipasi peserta didik,
penilaian, dan aktivitas tindak lanjut.Aktivitas awal pembelajaran berupa pemberian motivasi, menumbuhkan
perhatian, menjelaskan tujuan pembelajaran, dan menjelaskan kemampuan awal yang
diperlukan. Penyajian materi meliputi sajian bahan ajar dan contoh-contoh yang
relevan. Partisipasi peserta didik
dibangun dengan adanya praktik atau latihan dan umpan balik. Penilaian dapat
berupa tes kemampuan awal, pretest, dan posttest. Aktivitas
tindak lanjut dilakukan untuk membantu mempertahankan daya ingat terhadap
materi pembelajaran.