A . Pengertian Media Pembelajaran
Kata media berasal dari bahasa latin
medius yang secara harfiah berarti ‘tengah’, ‘perantara’ atau ‘pengantar’.
Menurut Gerlach dan Ely (1971) mengatakan bahwa media apabila dipahami
secara garis besar adalah manusia, materi atau kejadian yang membangun kondisi
yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap.
Media adalah alat yang menyampaikan atau mengantarkan pesan- pesan
pembelajaran. Dalam pengertian ini, guru, buku teks dan lingkungan sekolah
merupakan media.
Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang
dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (bahan pembelajaran), sehingga dapat
merangsang perhatian, minat, pikiran, dan perasaan siswa dalam kegiatan belajar
untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Ada beberapa jenis media pembelajaran yaitu, teks, media audio, media
visual, media proyeksi gerak, dan manusia.
B . Landasan Penggunaan Media Pembelajaran
Ada beberapa
tinjauan tentang landasan penggunaan media pembelajaran, antara lain landasasan
filosofis, psikologis, teknologis dan empiris.
1. 1). Landasan filosofis
Menurut Daryanto (2010:12) memaparkan
landasan filosofis penggunaan media pembelajaran yaitu bahwa dengan digunakannya berbagai jenis
media hasil teknologi baru di dalam kelas, akan berakibat proses pembelajaran
yang kurang manusiawi. Dengan kata lain, penerapan teknologi dalam pembelajaran
akan terjadi dehumanisasi. Bukankah dengan adanya berbagai media pembelajaran
justru siswa dapat mempunyai banyak pilihan untuk digunakan media yang sesuai
dengan karakteristik pribadinya? Dengan kata lain siswa dihargai harkat
kemanusiaanya diberi kebebasan untuk menentukan pilhan, baik cara maupun alat
belajar sesuai dengan kemampuannya. Dengan demikian, penerapan teknologi tidak
berarti dehumanisasi. Sebenarnya perbedaan pendapat tersebut tidak perlu
muncul, yang penting bagaimana pandangan guru terhadap siswa dalam proses
pembelajaran. Jika guru menganggap siswa sebagai anak manusia yang memiliki
kepribadian, harga diri, motivasi, dan memiliki kemampuan pribadi yang berbeda
dengan yang lain,maka baik menggunaka media hasil teknologi baru atau tidak,
proses pembelajaran yang dilakukan akan tetap menggunakan pendekatan humanis.
2. 2) . Landasan psikologis
Dengan
memperhatikan kompleks dan uniknya proses belajar, maka ketepatan pemilihan
media dan metode pembelajaran akan sangat berpengaruh terhadap hasil belajar
siswa. Di samping itu, persepsi siswa juga sangat mempengaruhi hasil belajar.
Oleh sebab itu, dalam pemilihan media, di samping memperhatikan kompleksitas
dan keunikan proses belajar, memahami makna persepsi serta factor-faktor yang
berpengaruh terhadap penjelasan persepsi hendaknya diupayakan secara optimal
agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif. Untuk maksud
tersebut perlu: Diadakan pemilihan media yang tepat sehingga dapat menarik
perhatian siswa serta memberikan kejelasan objek yang diamatinya. Bahan
pembelajaran yang diajarkan disesuaikan dengan pengalaman siswa. Kajian
psikologis menyatakan bahwa anak akan lebih mudah mempelajari hal yang konkrit
ketimbang yang abstrak. Berkaitan dengan continuum konkret-abstrak dan
kaitannya dengan penggunaan media pembelajaran.
Ada beberapa pendapat dari beberapa para ahli landasan
psikologis dalam penggunaan media pembelajaran, diantaranya:
a. Teori Perkembangan Kognitif Jean Peaget
Jean
Peaget, seorang psikolgis dan pendidik yang terkenal karena teori pembelajaran
berdasarkan tahapan-tahapan yang berbeda-beda
dalam perkembangan intelegensi anak. Kognitif adalah salah satu ranah
dalam taksonomi pendidikan. Secara umum kognitif diartikan potensi intelektual yang terdiri dari tahapan
antara lain pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisa, sintesa, dan evaluasi.
Kognitif berarti persoalan yang menyangkut kemampuan untuk mengembangkan
kemampuan rasional (akal).
b. Kerucut Pengalaman Edgar Dale
Kajian
psikologis mengatakan bahwa anak akan lebih mudah mempelajari hal yang konkret
ketimbang yang abstrak. Berkaitan dengan konkret-abstrak dan kaitannya dengan
penggunaan media pembelajaran, ada beberapa pendapat di antaranya:
o
bahwa dalam
proses pembelajaran hendaknya menggunakan urutan dari belajar dengan gambaran
atau film ( iconic representation of experiment) kemudian ke belajar
dengan simbol, yaitu menggunakan
kata-kata (symbolic representation ). Hal ini juga berlaku tidak hanya
untuk anak, tetapi juga untuk orang dewasa.
o
Bahwa
sebenarnya nilai dari media terletak pada tingkat realistiknya dalam proses penanaman
konsep, ia membuat jenjang berbagai jenis media mulai yang paling nyata ke yang
paling abstrak.
o
Membuat
jenjang konkrit-abstrak dengan dimulai dari siswa yang berpartisipasi dalam
pengalaman nyata, kemudian menuju siswa sebagai pengamat kejadian nyata,
dilanjutkan ke siswa sebagai pengamat terhadap kejadian yang disajikan dengan
media, dan terakhir siswa sebagai pengamat kejadian yang disajikan dengan
symbol. Jenjang konkrit-abstrak ini ditunjukkan dengan bagan dalam bentuk
kerucut pengalaman (cone of experiment).
3. 3) . Landasan teknologis
Teknologi
pembelajaran adalah teori dan praktek perancangan, pengembangan, penerapan,
pengelolaan, penilaian proses dan sumber belajar. Jadi, teknologi pembelajaran
merupakan proses kompleks dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide,
peralatan, dan organisasi untuk menganalisis maslaha, mencari cara pemecahan,
melaksankan, mengevaluasi, dan mengelola pemecahan masalah-masalah dalam
situasi di mana kegiatan belajar itu mempunyai tujuan dan terkontrol. Dalam
teknologi pembelajaran, pemecahan masalahan dilakukan dalam bentuk: kesatuan
komponen-komponen system pembalajaran yang telah disusun dalm fungsi desain
atau seleksi, dan dalam pemanfaatan serta dikombinasikan sehingga menjadi
system pembelajaran yang lengkap. Komponen-komponen ini termasuk pesan, orang,
bahan, media, peralatan, teknik dan latar.
4. Landasan empiris
Temuan-temuan
penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara penggunaan media
pembelajaran dan karakteristik belajar siswa dalam menentukan hasil belajar
siswa. Artinya, siswa akan mendapat keuntungan yang signifikan bila ia belajar
dengan menggunakan media yang sesuai dengan karakteristik tipe
atau gaya belajarnya. Siswa yang memilih tipe belajar visual akan
lebih memperoleh keuntungan bila pembelajaran menggunakan media visual, seperti
gambar, diagram, video, atua film. Sementara siswa yang memilih tipe belajar
auditif, akan lebih suka belajar dengan media audio, seperti radio, rekaman
suara, atau ceramah guru. Akan kebih tepat dan menguntungkan siswa dari kedua
tipe belajar tersebut jika menggunakan media audio-visual. Berdasarkan landasan
rasional empiris tersebut, maka pemilihan media pembelajaran hendaknya jangan
atas dasar kesukaan guru, tetapi harus mempertimbangkan kesesuaian antara
karakteristik pebelajaran, karakteristik media pelajaran, dan karakteristik
media itu sendiri.
Agar
penggunaan media pembelajaran berlangsung efektif, guru sebaiknya memahami
gaya-gaya belajar siswa, Gaya belajar adalah karakteristik kognitif, afektif
dan perilaku psikologis seorang siswa tentang bagaimana dia memahami sesuatu,
berinteraksi dan merespon lingkungan belajarnya, yang bersifat unik dan relatif
stabil. Adapun gaya-gaya belajar siswa menurut para ahli sebagai berikut:
a. Gaya belajar menurut David Kolb
David
Kolb mengklasifikasikan gaya belajar siswa ke dalam empat kecenderungan utama
yaitu:
- Concrete Experience (CE)
- Abstract conceptualization (AC)
- Reflective observation (RO)
- Active experimentation (AE)
b. Gaya Belajar Visual, Auditori, dan Kinestik
Secara umum
ada tiga macam gaya belajar, yaitu:
o
a.Gaya
belajar visual, gaya belajar ini menitikberatkan melalui apa yang dilihat. Bagi
siswa yang bergaya belajar visual, yang memegang peranan penting adalah mata
atau penglihatan (visual). Gaya belajar yang bersifat ekternal, ia menggunakan
materi atau media yang bisa dilihat. Materi atau media yang digunakannya berupa
buku, poster, majalah dan lain-lain. Sedangkan gaya belajar yang bersifat
internal adalah menggunakan imajinasi sebagai sumber informasi. Ciri-ciri
belajar visual adalah mengingat dengan mudah apa yang dilihat, mempunyai
masalah untuk dengan intruksi lisan,pembaca cepat dan tekun dan lain-lain.
o
b.Gaya
Belajar Auditori, Gaya belajar ini cendrung menggunakan pendengaran atau audoi
sebagai sarana dalam melakukan pembelajaran. Gaya belajar auditori yang bersifat ekternal adalah dengan
mengeluarkan suara. Sedangkan gaya belajar yang bersifat internal adalah
memerlukan suasana yang tenang atau hening sebelum mempelajari sesuatu.
Ciri-ciri gaya belajar auditorial adalah bicara pada diri sendiri pada saat
bekerja, sulit menulis tapi mudah bercerita dan lain-lain.
o
c.Gaya
Belajar Kinestik, Orang yang bergaya belajar kinestik belajar melalui
gerakan-gerakan sebagai sarana memasukkan informasi ke dalam otaknya. Gaya
belajar jenis ini yang bersifat ekternal adalah melibatkan kegiatan fisik,
membuat model, memainkan peran, berjalan dan sebagainya. Sedangkan gaya belajar
yang bersifat internal lebih menekankan pada kejelasan makna dan tujuan sebelum
mempelajari sesuatu hal. Ciri-ciri gaya belajar ini adalah berbicara dengan
perlahan, menanggapi perhatian fisik, menyentuh orang untuk mendapat perhatian
dan lain-lain.
apakah perbedaan dari Concrete Experience (CE)
BalasHapusdan Active experimentation (AE) ?
Perbedaannya yaitu :
Hapus1.Concrete Experience (CE) :
Pelajar melibatkan diri sepenuhnya dalam pengalaman baru
2.Active Experimentation (AE) :
Pelajar menggunaknan teori untuk memecahkan masalah dan mengambil keputusan
Tolong anda jelaskan empat klasifikasi gaya belajar menurut David Kolb?
BalasHapusTerima kasih kepada saudari Anisa Rahayu atas pertanyaan , saya akan mencoba menjawab :
BalasHapusKolb mengklasifikasikan Gaya Belajar Siswa ke dalam empat kecenderungan utama yaitu:
1. Concrete Experience (CE). Siswa belajar melalui perasaan (feeling), dengan menekankan segi-segi pengalaman kongkret, lebih mementingkan relasi dengan sesama dan sensitivitas terhadap perasaan orang lain. Siswa melibatkan diri sepenuhnya melalui pengalaman baru, siswa cenderung lebih terbuka dan mampu beradaptasi terhadap perubahan yang dihadapinya.
2. Abstract Conceptualization (AC). Siswa belajar melalui pemikiran (thinking) dan lebih terfokus pada analisis logis dari ide-ide, perencanaan sistematis, dan pemahaman intelektual dari situasi atau perkara yang dihadapi. Siswa menciptakan konsep-konsep yang mengintegrasikan observasinya menjadi teori yang sehat, dengan mengandalkan pada perencanaan yang sistematis.
3. Reflective Observation (RO). Siswa belajar melalui pengamatan (watching), penekanannya mengamati sebelum menilai, menyimak suatu perkara dari berbagai perspektif, dan selalu menyimak makna dari hal-hal yang diamati. Siswa akan menggunakan pikiran dan perasaannya untuk membentuk opini/pendapat, siswa mengobservasi dan merefleksi pengalamannya dari berbagai segi.
4. Active Experimentation (AE). Siswa belajar melalui tindakan (doing), cenderung kuat dalam segi kemampuan melaksanakan tugas, berani mengambil resiko, dan mempengaruhi orang lain lewat perbuatannya. Siswa akan menghargai keberhasilannya dalam menyelesaikan pekerjaan, pengaruhnya pada orang lain, dan prestasinya. Siswa menggunakan teori untuk memecahkan masalah dan mengambil keputusan .
saya ingin menambahkan bahwa Adapun media pengajaran menurut Ibrahim dan Syaodih (2003:112)
BalasHapusdiartikan sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan
pesan atau isi pelajaran, merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan
kemampuan siswa, sehingga dapat mendorong proses belajar mengajar. Dari
berbagai definisi di atas dapat diambil kesimpulan bahwa media adalah segala
benda yang dapat menyalurkan pesan atau isi pelajaran sehingga dapat
merangsang siswa untuk belajar.
Terima Kasih saudara soni telah membantu menambahkan sedikit materi tentang landasan teoritis multimedia pembelajaran
HapusSedikit menambahkan,Teori pembelajaran pemrosesan informasi adalah bagian dari teori belajar sibernetik. Secara sederhana pengertian belajar menurut teori belajar sibernetik adalah pengolahan informasi. Dalam teori ini, seperti psikologi kognitif, bagi sibernetik mengkaji proses belajar penting dari hasil belajar, namun yang lebih penting dari kajian proses belajar itu sendiri adalah sistem informasi, sistem informasi inilah yang pada akhirnya akan menentukan proses belajar.
BalasHapusPemrosesan informasi itu sendiri secara sederhana dapat diartikan suatu proses yang terjadi pada peserta didik untuk mengolah informasi, memonitornya, dan menyusun strategi berkenaan dengan informasi tersebut dengan inti pendekatannya lebih kepada proses memori dan cara berpikir. Dalam teori pemrosesan informasi, terdapat beberapa model mengajar yang akan mendorong pengembangan pengetahuan dalam diri siswa dalam hal mengendalikan stimulus yaitu mengumpulkan dan mengorganisasikan data, menyadari dan memecahkan masalah, mengembangkan konsep sehingga mampu menggunakan lambang verbal dan non verbal dalam penyampaiannya.
Terima Kasih mella telah membantu menambahkan sedikit materi tentang landasan teoritis multimedia pembelajaran
Hapusassalamulaikumm, :)
BalasHapusbaiklah disini saya akan menambahkan sedikit materi mengenai pstingan anda pada landasan tekhnologi, dimana pada landasan ini Media pembelajaran sebagai bagian dari teknologi pembelajaran memiliki enam manfaat potensial dalam memecahkan masalah pembelajaran, yaitu:
a. Meningkatkan produktivitas pendidikan ( Can make education more productive). Dengan media dapat meningkatkan produktivitas pendidikan antara lain dengan jalan mempercepat laju belajar siswa, membantu guru untuk menggunakan waktunya secara lebih baik dan mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga guru lebih banyak membina dan mengembangkan kegairahan belajar siswa.
b. Memberikan kemungkinan pembelajaran yang sifatnya lebih individual (Can make education more individual).Pembelajaran menjadi lebih bersifat individual antara lain dalam variasi cara belajar siswa, pengurangan kontrol guru dalam proses pembelajaran, dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkembang sesuai dengan kemampuan dan kesempatan belajarnya.
c. Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran ( Can give instruction a more scientific base). Artinya perencanaan program pembelajaran lebih sistematis, pengembangan bahan pembelajaran dilandasi oleh penelitian tentang karakteristik siswa, karakteristk bahan pembelajaran, analisis instruksional dan pengembangan disaign pembelajaran dilakukan dengan serangkaian uji coba yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
d. Lebih memantapkan pembelajaran (Make instruction more powerful).
Pembelajaran menjadi lebih mantap dengan jalan meningkatkan kapabilitas manusia menyerap informasi dengan melalui berbagai media komunikasi, di mana informasi dan data yang diterima lebih banyak,lengkap dan akurat.
e. Dengan media membuat proses pembelajaran menjadi lebih langsung/seketika (Can make learning more immediate). Karena media mengatasi jurang pemisah antara peserta didik dan sumber belajar, dan mengatasi keterbatasan manusia pada ruang dan waktu dalam memperoleh informasi, dapat menyajikan “kekonkritan” meskipun tidak secara langsung.
f. Memungkinkan penyajian pembelajaran lebih merata dan meluas (Can make access to education more equal)
terimakasih , semoga bermanfaat :)
Terima Kasih rianti sudah membantu menambahkan sedikit materi.
Hapushanya memberi saran, mohon materi anda lebih dilengkapi lagi. terimakasih
BalasHapusTerimakasih nova, sarannya saya terima.
Hapus